Selasa, 12 November 2013

what is ‘LOVE’? -- Short story


Seorang
gadis kecil manis berkuncir 2, kini hanya duduk termenung di taman
menatap sang ibu yang kini meneteskan air mata di hadapannya.

“ibu... doushite?” tanyanya dengan suara lirih seakan bisa merasakan sedikit perasaan ibunya
“nande mo nai... demo, ittai desu... hontou ni ittai...” jawab sang ibu menggenggam kalung di lehernya

“yang
mana yang sakit, ibu? mau ke dokter?” sang anak menatap ibunya dengan
iba dan berulang kali mengusapkan telapak tangan mungilnya ke lengan
ibunya, berharap itu akan sedikit mengurangi kepedihan tangisan si ibu.

Namun
si ibu berkata, “sakitnya tidak bisa disembuhkan, sayang...” sambil
memaksakan senyum, ia mengusap lembut kepala bidadari satu-satunya itu.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Ke esokan harinya....

Sang anak menemukan buku sketsa besar milik ibunya sewaktu SMA.

Sang
anak pun membuka lembar per-lembar, dan mulai mengeja satu persatu kata
yang terlukis dan mencoba memahami atas dasar rasa ingin tahu seorang
anak kecil.

Dan...


Setengah jam yang ia peroleh dari menyendiri di kamar ibunya sambil memandangi lembaran buku sketsa itu adalah, tumpukan kata “Aku menyukai Mu...”
dalam berbagai jenis tulisan, berbagai bentuk, berbagai warna, dan
berbagai curahan rasa kesepian yang terbaca dari lukisan, atau torehan
kata-kata itu.

Selain itu, ada ribuan kata-kata lainnya yang
ditulis dengan ukuran kecil mengelilingi kata utama yang tertulis paling
besar itu. yang sepertinya tak kalah menghanyutkan...

Sang anak berlari kecil keluar kamar dan menghampiri sang ibu yang memasak di dapur sambil membawa—setengah menyeret—buku sketsa besar milik ibunya itu.

Sang ibu merasa ada yang menarik rok terusan bawah kakinya itu, dan menoleh ke bawah dengan segera...

“ibu...” suara kecil sang anak mencoba meraih ibunya yang jauh lebih tinggi darinya.
Si ibu pun tersenyum dan memutuskan untuk berjongkok dan men-sejajarkan tatapannya dengan anaknya itu.
“nani?” tanya si ibu dengan lembut.

Sang
anak menunjukan buku sketsa yang sedari tadi ia seret dengan tangan
kecilnya. Hal itu membuat si ibu terkejut. Belum sempat ibunya bertanya,
‘dari mana kau dapatkan itu?’ si anak memotongnya dan bertanya lebih dulu dari sang ibu.
                “Cinta itu apa?”
Pertanyaan lugu si anak membuat terkejut sang ibu untuk kedua kalinya hari ini.

“kenapa
ibu ingin Cinta itu lenyap? Lenyap itu apa? Apa Cinta itu teman ibu?
Kenapa ibu banyak menulisnya disini? Kenapa banyak coretan dan cipratan
tinta merah? Kenapa buku ini sangat berantakan, bu? Aku tak
mengerti....”
Pertanyaan anak manisnya hanya dibalas dengan senyuman tulus. Lalu sang ibu mulai menjawab.
               “Suatu saat kau akan mengerti...”
Si anak hanya menunjukan wajah penuh tanya sebagai respon jawaban ibunya.

“tapi ibu janji ya, kalau hati ibu dingin lagi, beritahu aku. Aku pasti akan segera memeluk hati ibu agar kembali hangat.”
Sang ibu sontak memeluk anak gadis satu-satunya itu
“arigatou... tapi, hanya dengan kehadiran mu disini, hati ibu sudah terasa hangat dan tak akan dingin lagi.” Jawab sang ibu.
“benar? Ibu janji? Tak akan menangis lagi karena sakit yang tak bisa sembuh seperti kemarin?”
“Un. Ibu berjanji...”

Kedua insan itu pun tertawa bersama sembari mengikatkan jari kelingkingnya masing-masing

Dan
jawaban si ibu tersebut membuat sang anak membalas pelukan ibunya
dengan melingkarkan tangan mungilnya kepada bahu ibu yang sangat
disayanginya itu
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Bertahun-tahun telah berlalu...

Sang anak kini telah menjadi gadis remaja yang cantik.

Hari
ini ia pulang larut malam dengan seragam dan rambut panjangnya yang
terurai basah terguyur hujan. Hal itu membuat sang ibu yang tak tidur menunggu kepulangannya, terkejut bukan main...

Anak gadisnya jatuh terduduk lesu, sang ibu menghampirinya dengan cemas.
“doushita no?” tanya sang ibu

Anaknya menitikan air mata.

“ibu...
apa cinta itu seperti ini? Apa ini yang disebut sakit yang tak bisa
disembuhkan? Mengapa harus ada hati yang tersakiti dalam cinta? Aku
masih tak mengerti...”

Tangis sang anak pun memecah keheningan rumah yang memang hanya dihuni oleh kedua wanita itu.

Namun
sang ibu tak mengeluarkan sepatah-katapun. Hanya terdiam memeluk sang
anak untuk sejenak. Lalu sang ibu mulai mengatakan, “ya... inilah sakit
yang tak bisa disembuhkan. Tapi ibu bisa menolong sedikit. Semua yang
ada di hatimu... semua, apapun itu. jangan pernah kau pendam sendiri,
ceritakan saja semua yang kau rasakan pada ibu. Dan berjanjilah, katakan
pada ibu bila hatimu dingin, ibu pasti akan segera memeluk hatimu agar
kembali hangat...”


Lalu, malam itu pun seperti berlangsung
lama. Kisah-demi kisah dari kedua insan itu yang terus mengalir.
Perbincangnan panjang dan saling bertukar pikiran. Seperti tak
mempedulikan detak waktu. Kasih sayang mereka mengalir menghangatkan
rumah yang sunyi, meski air mata sempat menetes.

Menggenggam tangan satu sama lain, Bersama.... mereka melangkah untuk melihat cinta di hari esok...

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Design By:
SkinCorner