Selasa, 12 November 2013

Cinta yang Bermasjid di Gereja

Kamu pasti tahu aku mencintaimu
hingga aku harus melawan segala norma yang ada
hingga aku harus menutup telinga
pada setiap cercaan dan makian

Kamu tentu mengerti banyak masalah yang aku selami
untuk bersatu denganmu
untuk bisa merengkuh setiap jengkal pelukmu

Kamu pasti memaklumi kalau aku mencintaimu
walau tasbihku berbeda dengan kalung salibmu
walau kitab bacaanku berbeda dengan kitab bacaan mu
salahkah perbedaan itu, sayang.??

Aku mencicipi segala yang haram
segala yang katanya hina
segala yang berkhianat
hanya untuk sampai pada pelukmu

Dosakah kita
jika hanya ingin memperjuangkan cinta.??
Patutkah cinta kita dibela
jika semua orang berkata ini hina.??

Ceritakan pada mereka, sayang
bahwa kita bahagia
Katakan pada mereka, sayang
bibir kita tak berdusta

Bibirku dan bibirmu
tak seperti bibir mereka
yang senang merajam
sumpah serapah
yang senang menuduh
jenuh.!!

Ceritakan pada mereka
tentang kebahagiaan kita
Biarkan mereka Bungkam.!!
biarkan mereka karam.!!
"Aku percaya kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus kristus AnakNya yang tunggal  Tuhan kita."

Ucap seorang pria di sudut tepi sebuah gereja yang kudus. Seluruh orang beribadah dengan khusu.

"Bismillaahir rahmaanir rahiim.  Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin."

Lembut suara wanita itu mengalun, menambah suasana hikmat di Masjid kala itu.

"Yang dikandung dari Roh Kudus. lahir dari anak dara Maria. Yang menderita sengsara di bawah PemerintahanPontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun dalam kerajaan maut."

Lanjut pria itu dengan mata tertutup, dia begitu menikmati persekutuannya dengan Tuhan yang mendengar seruan pengakuan iman rasull dari bibirnya.

"Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumiddiin. "

Bibir wanita itu masih saja mengamit haru, dia membayangkan bahwa Allah sedang menatap wajahnya yang begitu cantik seusai dibasuh oleh air wudhu.

"Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati Naik ke Surga, duduk disebelahkanan Allah, Bapa yang Maha Kuasa. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati,"

Perlahan-lahan pria itu semakin tenggelam dalam suasana kudus dan menyejukkan yang membuat tubuhnya seakan-akan dipeluk seseorang, begitu hangat.

"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.  Ihdinash shiraathal mustaqiim. "

Wanita itu mengarahkan hatinya bulat-bulat pada Allah. Allah semakin tersenyum dengan lebar menatap umat kecintaanNya semakin mencintaiNya dan menyadari kebaradaanNya yang nyata.

"Aku percaya kepada Roh Kudus. Gereja ygng Kudus dan am, persekutuan orang kudus. Pengampunan dosa. Kebangkitan daging. Dan hidup yang kekal."

Hatinya bergetar bibirnya berhenti berkata-kata, pria itu merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat. pria itu merasakan Tuhan berada disampinmgnya.

"Shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim wa ladh dhaalliin, Amiin "

Wanita itu menengadahkan kepalanya, hatinya bergetar dengan hebat. Kembali ia merasakan kehadiran Allah didekatnya,  begitu dekat.

Pria itu menduduki bangkunya, sambil kembali menatap liturgi ibadah, hatinya mendesah, "Lindungi kekasihku yang sedang berada dimasjid kali ini, Tuhan. Percayalah dia juga mencintaiMu, dia hanya menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda."

Seusai itu ia mengucap surat Al-Ikhlas, hatinya bergetar, doa lirih terdengardari hatinya. " ya Allah, Kekasihku sedang berada di Gereja, Kau Tahu.?? Dia pun juga mencintaiMu, sama seperti aku, meskipun tempat Ibadahnya berbeda dengan tempat ibadahku."

Sang pria melanjutkan ibadahnya, memuji Tuhan dengan hati tulusnya. Sang wanita bersujud menyembah, Memuja Allah dengan hatinya yang seluas samudra.. Dalam hati, mereka mengamit resah, "Apa Tuhan melihat kisah kita?"
Di sore yang damai ini, aku ingin berterima kasih kepadaMu, karena kini kumengerti bahwa ::

. "Aku bukan hanya berhak untuk berbahagia, tapi aku juga berkewajiban untuk berbahagia."
Jika aku hanya mengeluhkan diriku yang tak dibahagiakan, maka aku hanya meratap sebagai korban.
Dan aku bukan korban. Aku penguasa atas keputusanku sendiri. Tak boleh ada orang menyanderaku dalam kesalahanku, apalagi dalam kesalahannya.aku bertanggung-jawab bagi kebahagiaanku sendiri.
. Jika bukan aku yang tegas membela diriku untuk memajukan kebahagianku sendiri, siapa lagi?

. Hari ini aku tak boleh meneruskan kebiasaanku menikmati kesedihan.
Dan aku tak mungkin berhasil membebaskan hatiku dari kesedihan, jika tubuhku tak aktif bergerak.
Kegiatan adalah penghilang kesedihan.
Tidak ada orang yang aktif, sempat meratap dalam kesedihan.
Hanya orang yang diam memanjakan rasa malas dan melunglaikan tubuh, yang akan melapuk dalam gerogotan rasa sedih.
. Aku diciptakan tidak sesuai dengan kesedihan. Itu sebabnya aku menderita dalam kesedihanku.
Tapi kesedihanku diciptakan untuk menyegerakan tindakanku, agar aku menjadi lebih kuat menghadapi orang dan keadaan yang dulu menyedihkanku.
Tuhan, mulai hari ini, aku akan mengganti air mata kesedihanku dengan air mata keharuanku atas keindahan kehidupan yang Kau anugerahkan kepadaku.
Tuhanku Yang Maha Memungkinkan,
Tenagailah upayaku untuk mengubah kesedihan yang melemahkanku, menjadi kesedihan yang menyegerakan tindakanku.
Karena, penyesalan terbesarku di masa tuaku, bukanlah karena aku salah dalam tindakanku, tapi karena kurangnya tindakanku.
Dan aku akan menjadi sebagaimana aku menjadikan diriku sendiri, dengan ijinMu.. Aamiin

Seorang
gadis kecil manis berkuncir 2, kini hanya duduk termenung di taman
menatap sang ibu yang kini meneteskan air mata di hadapannya.

“ibu... doushite?” tanyanya dengan suara lirih seakan bisa merasakan sedikit perasaan ibunya
“nande mo nai... demo, ittai desu... hontou ni ittai...” jawab sang ibu menggenggam kalung di lehernya

“yang
mana yang sakit, ibu? mau ke dokter?” sang anak menatap ibunya dengan
iba dan berulang kali mengusapkan telapak tangan mungilnya ke lengan
ibunya, berharap itu akan sedikit mengurangi kepedihan tangisan si ibu.

Namun
si ibu berkata, “sakitnya tidak bisa disembuhkan, sayang...” sambil
memaksakan senyum, ia mengusap lembut kepala bidadari satu-satunya itu.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Ke esokan harinya....

Sang anak menemukan buku sketsa besar milik ibunya sewaktu SMA.

Sang
anak pun membuka lembar per-lembar, dan mulai mengeja satu persatu kata
yang terlukis dan mencoba memahami atas dasar rasa ingin tahu seorang
anak kecil.

Dan...


Setengah jam yang ia peroleh dari menyendiri di kamar ibunya sambil memandangi lembaran buku sketsa itu adalah, tumpukan kata “Aku menyukai Mu...”
dalam berbagai jenis tulisan, berbagai bentuk, berbagai warna, dan
berbagai curahan rasa kesepian yang terbaca dari lukisan, atau torehan
kata-kata itu.

Selain itu, ada ribuan kata-kata lainnya yang
ditulis dengan ukuran kecil mengelilingi kata utama yang tertulis paling
besar itu. yang sepertinya tak kalah menghanyutkan...

Sang anak berlari kecil keluar kamar dan menghampiri sang ibu yang memasak di dapur sambil membawa—setengah menyeret—buku sketsa besar milik ibunya itu.

Sang ibu merasa ada yang menarik rok terusan bawah kakinya itu, dan menoleh ke bawah dengan segera...

“ibu...” suara kecil sang anak mencoba meraih ibunya yang jauh lebih tinggi darinya.
Si ibu pun tersenyum dan memutuskan untuk berjongkok dan men-sejajarkan tatapannya dengan anaknya itu.
“nani?” tanya si ibu dengan lembut.

Sang
anak menunjukan buku sketsa yang sedari tadi ia seret dengan tangan
kecilnya. Hal itu membuat si ibu terkejut. Belum sempat ibunya bertanya,
‘dari mana kau dapatkan itu?’ si anak memotongnya dan bertanya lebih dulu dari sang ibu.
                “Cinta itu apa?”
Pertanyaan lugu si anak membuat terkejut sang ibu untuk kedua kalinya hari ini.

“kenapa
ibu ingin Cinta itu lenyap? Lenyap itu apa? Apa Cinta itu teman ibu?
Kenapa ibu banyak menulisnya disini? Kenapa banyak coretan dan cipratan
tinta merah? Kenapa buku ini sangat berantakan, bu? Aku tak
mengerti....”
Pertanyaan anak manisnya hanya dibalas dengan senyuman tulus. Lalu sang ibu mulai menjawab.
               “Suatu saat kau akan mengerti...”
Si anak hanya menunjukan wajah penuh tanya sebagai respon jawaban ibunya.

“tapi ibu janji ya, kalau hati ibu dingin lagi, beritahu aku. Aku pasti akan segera memeluk hati ibu agar kembali hangat.”
Sang ibu sontak memeluk anak gadis satu-satunya itu
“arigatou... tapi, hanya dengan kehadiran mu disini, hati ibu sudah terasa hangat dan tak akan dingin lagi.” Jawab sang ibu.
“benar? Ibu janji? Tak akan menangis lagi karena sakit yang tak bisa sembuh seperti kemarin?”
“Un. Ibu berjanji...”

Kedua insan itu pun tertawa bersama sembari mengikatkan jari kelingkingnya masing-masing

Dan
jawaban si ibu tersebut membuat sang anak membalas pelukan ibunya
dengan melingkarkan tangan mungilnya kepada bahu ibu yang sangat
disayanginya itu
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Bertahun-tahun telah berlalu...

Sang anak kini telah menjadi gadis remaja yang cantik.

Hari
ini ia pulang larut malam dengan seragam dan rambut panjangnya yang
terurai basah terguyur hujan. Hal itu membuat sang ibu yang tak tidur menunggu kepulangannya, terkejut bukan main...

Anak gadisnya jatuh terduduk lesu, sang ibu menghampirinya dengan cemas.
“doushita no?” tanya sang ibu

Anaknya menitikan air mata.

“ibu...
apa cinta itu seperti ini? Apa ini yang disebut sakit yang tak bisa
disembuhkan? Mengapa harus ada hati yang tersakiti dalam cinta? Aku
masih tak mengerti...”

Tangis sang anak pun memecah keheningan rumah yang memang hanya dihuni oleh kedua wanita itu.

Namun
sang ibu tak mengeluarkan sepatah-katapun. Hanya terdiam memeluk sang
anak untuk sejenak. Lalu sang ibu mulai mengatakan, “ya... inilah sakit
yang tak bisa disembuhkan. Tapi ibu bisa menolong sedikit. Semua yang
ada di hatimu... semua, apapun itu. jangan pernah kau pendam sendiri,
ceritakan saja semua yang kau rasakan pada ibu. Dan berjanjilah, katakan
pada ibu bila hatimu dingin, ibu pasti akan segera memeluk hatimu agar
kembali hangat...”


Lalu, malam itu pun seperti berlangsung
lama. Kisah-demi kisah dari kedua insan itu yang terus mengalir.
Perbincangnan panjang dan saling bertukar pikiran. Seperti tak
mempedulikan detak waktu. Kasih sayang mereka mengalir menghangatkan
rumah yang sunyi, meski air mata sempat menetes.

Menggenggam tangan satu sama lain, Bersama.... mereka melangkah untuk melihat cinta di hari esok...

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
 
Template Design By:
SkinCorner